Permainan bola voly merupakan permainan beregu yang
menggunakan bola besar. Masing-masing regu berjumlah 6 orang. Masing-masing
regu dalam permainan bola voly hanya diperbolehkan memainkan bola sebanyak 3
kali. Pukulan bola ketiga harus diarahkan ke daerah lawan.
Permainan bola voly diciptakan oleh William C. Morgan LA. Seorang guru pendidikan
olahraga di Young Man Cristian’s association (YMCA) yang beralamatkan di
Massachusset Amerika pada tahun 1895. Perkembangan olahraga bola voly menyebar
dengan pesat hingga menyebar ke seluruh dunia pada waktu perang dunia pertama.
Perkembangan olahraga bola voly berkembang sangat pesat terutama di wilayah
benua Eropa.
BangsaIndonesia mengenal olahraga bola voly pada waktu jaman
penjajah belanda. Perkembangannya sangat pesat hingga bermunculan club-club
bola voly terutama di kota-kota besar seperti di Surabaya ada club IVOS, di
Bandung ada ILOBA, di Jakarta ada PERUJI, dan di kota-kota lain yang tidak
tercatat namanya.
Kemudian pada tahun 1948 dibentuk dibentuk organisasi
olahraga bola voly seluruh dunia International Volley Ball Federation atau
disingkat IVBF. Di Indonesia Persatuan bola voly seluruh Indonesia (PBVSI) baru
dibentuk pada tahun 1955 setelah Indonesia merdeka. Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951
di Jakarta dan POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan
bnola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di
seluruh pelosok tanah air.
Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan
dalam kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka
menunjukkan peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan
bola voli di Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu
tangkis.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia,
PBVSI telah dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia
di Athena Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola
voli yunior putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh
trainer Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih
fisik diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepelatihan PKON (pusat
kesehatan olahraga nasional)